Di Antara Riuh Dunia dan Sepotong Kue Pereda Jiwa
Ada paradoks aneh yang selalu aku rasakan setiap kali kalender mendekati hari ulang tahun. Sebagian menganggap ini adalah hari perayaan, tetapi sering kali aku merasa bahwa ini tidak lebih dari sekadar intrusi. Aku ingin kabur, mematikan notifikasi, dan membiarkan hari itu berlalu begitu saja dalam senyap, dalam lelap. Mungkin karena suasananya, perayaan yang bising sering kali terasa hampa—sebuah formalitas sosial yang menuntut energi ekstrovert yang tak selalu kumiliki. Aku selalu berpikir bahwa aku tidak suka merayakannya. Sampai akhirnya, kamu membuktikan bahwa aku salah. Tahun ini, tidak ada pesta kejutan yang membuat jantung berdebar cemas (karena memang tak pernah ada perayaan sama sekali sebelumnya). Hanya ada kamu, kehadiranmu yang meneduhkan, dan sebuah kotak kue. Sederhana sekali. Namun, ketika aku melihat tulisan di atasnya, "Semoga Tuhan memberkahimu, jiwa-tenang-ku" , duniaku sejenak berhenti berotasi. Kamu bilang, aku adalah "jiwa yang tenang". K...



.jpg)

