"Memasihkan yang Pernah" bersama Aan Mansyur

Jika pendengar musik dapat melihat penyanyi atau band memainkan musiknya dalam suatu acara, bagaimana dengan pembaca buku, akankah mereka melihat penulis membacakan bukunya? Seorang penyair atau penulis puisi mungkin masih bisa dilihat membacakan syair atau puisinya dalam suatu acara, tetapi bagaimana dengan penulis novel atau jenis tulisan lainnya? Itu kira-kira ke-random-an isi kepalaku beberapa hari kemarin sebelum mengikuti temu sapa dengan Aan Mansyur yang diadakan oleh Patjar Merah dan Shiramedia dengan tajuk "Memasihkan yang Pernah" di kedai Patjar Merah Jakarta. Tentu saja sebelumnya aku pernah mengikuti sesi temu dengan penulis yang pernah kuceritakan di sini "Ditegur Asma Nadia". Hanya saja kali ini akan bertemu sapa dengan seorang penyair yang akan mempromosikan buku puisinya. Jadi, aku belum memiliki bayangan akan pertemuan tersebut nantinya.

Sebelum memutuskan untuk mengikuti temu sapa dengan Aan Mansyur, beberapa hari sebelumnya aku hanya berhasrat untuk mengunjungi Festival Homecoming dan Kepulangan yang diselenggarakan oleh Patjar Merah Kaget dan Festival Buku Asia pada 2--10 September 2023 di Pos Bloc Jakarta dan tidak mengetahui akan adanya sesi temu dengan beliau. 

                                          

(Dokumentasi/poster Patjar Merah, sumber: https://www.instagram.com/p/CwxkJccRZWI/?utm_source=ig_web_copy_link&igshid=MzRlODBiNWFlZA==)


Selepas melihat unggahan akun Instagram Patjar Merah dan Shiramedia yang mempromosikan acara temu sapa dengan Aan Mansyur, aku langsung mendaftarkan-diri untuk mengikuti acara tersebut yang diadakan pada Kamis, 7 September 2023  di kedai Patjar Merah (lokasi yang sama) yang kebetulan (menurutku) merupakan waktu yang pas untuk mengisi waktu liburku.



(Dokumentasi pribadi)

Pada hari H, sepulang bekerja, aku berangkat dari Bogor menuju Jakarta menggunakan KRL. Karena temu sapa dengan Aan Mansyur dimulai pukul 19.30, aku yang sampai di lokasi sekitar 18.30, sementara menghabiskan waktu terlebih dahulu dengan melihat-lihat buku yang tengah dipasarkan di sana. 

 (Dokumentasi pribadi)

Banyak sekali buku yang mencuri perhatianku. Karena anggaran-untuk-membeli-bukuku terbatas, aku hanya mampu untuk membeli beberapa buku yang sekiranya kuperlukan untuk pengembangan diri dan asupan imajinasi (yang nantinya semoga menjadi bahan tulisanku nanti xixi).


                                                                      (Dokumentasi pribadi)

Ketika jam di ponselku menunjukkan waktu mendekati waktu acara (aku tidak percaya dengan jam tanganku yang kupasang di tangan kanan karena sudah kusetel lebih cepat hingga khawatir membuatku terburu-buru), aku langsung menuju ke tempat acara akan diselenggarakan, yakni di kedai Patjar Merah yang ternyata tersembunyi di belakang area festival. Sesampainya di sana, kuamati kedai buku yang suasananya memanjakan mata. Jajaran buku-buku yang baru kulihat dan gambar yang terpajang di dinding membuat mataku menyusuri tiap sudut ruangan. Karpet yang kuyakini dijadikan alas duduk untuk acara telah diduduki oleh beberapa orang yang kesemuanya adalah wanita, aku pun segera mengisi kekosongan ruang di sana.

(Dokumentasi pribadi)

Mendekati acara dimulai, datang dan duduk di sebelahku seorang wanita berambut pendek yang dugaanku berusia 30-an dan merupakan bagian dari Patjar Merah, mbak Wi namanya setelah kusapa dan saling berkenalan. Karena belum mengenal latar belakangnya, kami hanya berbicara sekadarnya. Beliau ramah dan interaktif, sehingga ketika bertemu untuk pertama kali dengannya, kamu akan merasa telah lama mengenalnya (klise sekali, ya? haha). Sejurus kemudian, datang satu wanita lagi dan mendekati kami. Kali ini aku merasa familier dengan wajahnya karena pernah beberapa kesempatan menyaksikan siniar (podcast) di Youtube dan mengikutinya di Twitter, Zahwa namanya. Ia langsung menyapa kami, aku refleks berkata pada mbak Wi bahwa aku kenal dengan mbak Zahwa dan mengikutinya di Twitter. Setelah beberapa topik obrolan kami bincangkan, mbak Wi pamit terlebih dahulu dan meninggalkan kami berdua. Beberapa kesempatan kudapati diriku berbasa-basi lalu meminta izin untuk berswafoto bersama (aku merasa tidak enak karena yakin kalau cara mengambil fotoku kurang baik, terlalu dekat. Maaf sudah kuhaturkan kepadanya lewat unggahan Twitter hehe). 

(Dokumentasi pribadi)

Mbak Zahwa adalah orang yang kuikuti di Twitter karena ia merupakan salah satu psikolog yang akun media sosialnya cukup direkomendasikan untuk diikuti. Selain melihat sekilas yang ia unggah di Twitter, aku juga beberapa kesempatan menyaksikan pembicaraan ia dalam sebuah siniar (podcast) seperti Putcast yang dibawakan oleh Phutut EA (Kepala Suku Mojok) dan siniar Ruang Sambat--NKSTHI (Nanti Kita Sambat Tentang Hari ini) yang dibawakan Mas Aik--penulis buku NKSTHI. Jadi, ketika bertemu secara langsung dan tidak terencana, aku merasa senang dan beruntung bisa dipertemukan.

Karena kehabisan pembahasan, perhatianku mulai terseret ke arah bintang utama acara temu sapa yang sedari tadi sudah bersiap diri di depan kami, Aan Mansyur.

(Dokumentasi pribadi)

Melihat secara langsung seseorang yang biasanya hanya bisa dilihat lewat layar ponsel memang terkadang membikin kita terpesona, ditambah lagi ia merupakan seseorang yang ternama, sinar yang terpancar darinya kian menyita tatapan mata. Sebagai seseorang yang baru gemar membaca, jelas aku belum memasukkan judul buku-buku beliau ke dalam daftar buku yang harus kubaca. Satu-satunya buku yang ditulis Aan Mansyur di atas rak bukuku hanyalah buku kumpulan cerita berjudul Kukila yang kubeli tahun 2019 silam. Meski demikian, pertemuan dengan beliau merupakan hal yang dinantikan. 

Memasihkan yang Pernah, adalah judul buku puisi terbaru Aan Mansyur yang akan dibahas di sesi temu dengan beliau kali ini. Meski disebut acara temu sapa sekaligus pembahasan buku baru, buku tersebut ternyata belum terbit dan baru akan dilakukan pra pesan pada tanggal 9 September 2023. "Luar biasa. Bukunya belum ada, tapi sudah dibahas" begitu ujar mas Stebby Julionatan selaku pemantik acara yang berisi obrolan seputar puisi dan foto tersebut. Ya, puisi dan foto. Ternyata buku Memasihkan yang Pernah ini bukan hanya berisi tulisan--puisi, melainkan sepaket dengan foto hasil jepretan mas Aan. Mas Aan menuturkan bahwa bukunya kali ini (bisa dikatakan) merupakan tugas akhirnya di sebuah kelas fotografi. Beliau juga menceritakan latar belakang diusungnya konsep bukunya kali ini bahwa foto dan tulisan bukan merupakan dua hal yang saling meniadakan makna satu sama lain, melainkan foto dan tulisan masing-masingnya memiliki makna yang utuh.

                                                      

                                                                      (dokumentasi pribadi)

Selain mengusung konsep buku yang demikian, Mas Aan juga membuat sebuah permainan menggunakan kartu berisi foto dan puisi yang (katanya serampangan) beliau namai Poetography. Permainan tersebut dibuat dengan alasan terlalu banyak permainan yang tujuan akhirnya adalah mengalahkan lawan bermain--alih-alih teman bermain.

                                                      

                                                                    (dokumentasi pribadi)  

Cara memainkan Poetography adalah dengan membuat kelompok bermain yang bisa terdiri atas 5 orang (bisa kurang atau lebih), kemudian setiap orang mengambil satu tumpukan foto yang telah diacak. Masing-masing dari kelompok bermain tersebut diminta untuk menginterpretasikan foto yang diambilnya. Setelah semua mendapat giliran mengambil dan menginterpretasikan foto yang diambil, giliran salah satu dari mereka untuk mengambil lembar puisi dari tumpukan puisi yang juga telah diacak dan kemudian membacakannya. Setelah salah satu dari tumpukan puisi dibacakan, tiap kelompok bermain dimintai untuk menghubungkan foto yang telah mereka ambil dengan puisi yang dibacakan.




Ketika aku dan kelompok bermainku memainkan permainan tersebut, hampir semua merasa tercengang mendapati makna puisi yang dibacakan begitu memiliki keterkaitan dengan tiap foto yang kami ambil. Ada Clara yang tersihir dengan foto bangku terbengkalai di sebuah hutan yang mengingatkannya pada bangku yang sama persis seperti yang terdapat di rumah neneknya. Juga Hayu yang diingatkan kembali akan masa kecil dan kemuraman hidup yang dialaminya oleh sebuah foto boneka rusak yang tersangkut di semak-semak. Dan satu wanita di sebelah kiriku yang juga merasa terpanggil kembali akan ingatan sekumpulan kupu-kupu di Maros, Makassar. Kurasa semua yang telah bermain Poetography sepakat kalau mas Aan telah bersekongkol dengan semesta melalui permainan ini.

Setelah selesai melakukan permainan sebagai pamungkas temu sapa, acara tersebut ditutup dengan berfoto bersama. Aku berkesempatan meminta tanda tangan mas Aan--di buku Kukila yang sengaja kubawa--dan juga berfoto. Aku terperanjat ketika beliau begitu ekspresif dalam tiap jepretan foto. Tadinya kukira dengan kepribadian beliau yang agak tertutup, akan kesulitan memperlihatkan ekspresi atau kaku dalam berfoto. Ternyata beliau ahli menyesuaikan diri (seperti karyanya yang disesuaikan dengan cermat). 

                              

                                                                                              (Dokumen pribadi)

Dalam sesi tanya jawab sebelumnya, tidak sedikit yang mas Aan sampaikan. Beliau menjawab dengan penuh filosofis setiap pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. 

(Dokumen pribadi)

Hanya beberapa pesan beliau yang kuingat meski sangat membekas yang salah satu di antaranya adalah "ketika kita mengatakan (bahwa ini adalah) waktu yang tepat, sesungguhnya pada saat itu kita telah terlambat." Pesan tersebut sangat menampar bagiku yang selalu menunggu momen yang pas untuk melakukan sesuatu--apalagi yang berkaitan dengan hal-hal produktif. Banyak rencanaku yang gagal kujalani hanya karena merasa bahwa waktunya kurang tepat, sehingga penyesalan selalu siap sedia di masa depan, menyambutku ketika aku terus memelihara sifat perfeksionisku.

Pengalaman yang menyenangkan. Terima kasih Patjar Merah dan Shiramedia yang telah mempertemukan kami dengan mas Aan (atau justru mas Aan sendiri yang telah mengatur semua kejadian yang kami alami? haha) Terima kasih mas Aan, semoga satu waktu dapat kembali dipertemukan. Tabik! 



Comments

Popular Posts