(Bukan) Review Film: Bumi Manusia


11 Maret 2019 lalu, merupakan kali pertama saya membeli buku karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia. Buku yang tengah hangat diperbincangkan di media sosial saat itu–karena akan dialih-wahanakan ke dalam sebuah film oleh rumah produksi Falcon Pictures dan akan disutradarai oleh Hanung Bramantyo.

Poster Film Bumi Manusia [dok Falcon Pictures]

Namun, alasan saya membeli buku Bumi Manusia bukan karena sebatas buku tersebut akan dialih-wahanakan ke dalam sebuah film, melainkan karena rasa penasaran saya terhadap karya-karya dari sosok penulis luar biasa yang akrab  disapa "Pram" tersebut.

Sebelumnya saya sama sekali tidak mengenal siapa Pramoedya (Pram) Ananta Toer, tidak sampai saya mencari tahu tentangnya lewat beberapa situs di internet, dan mendapati fakta bahwa karya-karyanya  begitu dikenal sampai mancanegara. Salah satu karyanya yang terkenal dan masih eksis (sampai saat itu) yakni buku Bumi Manusia yang merupakan buku pertama dalam Tetralogi Buru. Saya pun membelinya di toko buku, dan setelah membaca buku tersebut, langsung bertanya-tanya "akankah film Bumi Manusia mampu mewakili imajinasi sang penulis maupun para pembaca bukunya yang luar biasa?".

***

Karena cukup antusias dan penasaran bakal disajikan seperti apa Bumi Manusia dalam media film, saya dan dua kawan saya pun menyaksikan pemutaran film Bumi Manusia tepat di hari perilisannya, yakni 15 Agustus 2019.


Film Bumi Manusia [dok Falcon Pictures]


Saat itu saya sempat berharap film tersebut bisa persis seperti yang tersaji dalam buku (dan imajinasi saya). Karena hal tersebutlah saya kurang menikmati jalannya cerita dalam film ketika melihatnya tidak sesuai harapan.


Saya sadar, film Bumi Manusia memang tidak akan bisa mewakili (apalagi memuaskan) semua imajinasi para pembaca bukunya, dan dalam mengalih-wahanakan buku Bumi Manusia tersebut ke media film pun–pihak Falcon Pictures maupun Hanung Bramantyo pasti telah melakukan banyak sekali perhitungan demi tersampaikannya pesan yang tersirat dalam karya Pram tersebut lewat sebuah film sebagai alternatif, saya rasa film tersebut sudah sangat sukses dalam meringkas buku Bumi Manusia. Hanya saja, apakah pesan yang ingin disampaikan Pram lewat bukunya akan benar-benar tersampaikan lewat film Bumi Manusia?

Saya rasa, semua tergantung kita sebagai penikmat karya. Mau lewat buku atau film, sebuah pesan yang ingin disampaikan seseorang lewat karya–tidak akan pernah sampai jika kita sebagai penikmat karya–hanya sekadar menikmati tanpa pernah mau menelaah dan tidak punya hasrat untuk meneliti.

Salam Literasi!

Comments

Popular Posts