Sebuah Usaha Mengenali Diri dan Menjadi Dewasa


26 tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi seseorang yang tengah menjalani hidup. Dengan waktu selama itu, dalam pandangan masyarakat umum, seseorang sudah dianggap dewasa (pada beberapa aspek) dan dianggap mandiri dalam urusan finansial karena telah cukup mendapatkan pengalaman. 

Sebagai seseorang yang tepat pada hari ini menginjak usia 26 tahun, aku belum sepenuhnya memenuhi karakteristik seseorang yang disebut dewasa pada beberapa aspek seperti:


Fisik

Sebagai makhluk hidup, manusia mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan. Mengutip artikel dr. Nitish di laman klikdokter, menurut data dari FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations), di Indonesia, rata-rata tinggi badan laki-laki pada usia 16 tahun terletak di 161 cm.


Mengenai tinggi badan, aku tidak ingat kapan terakhir kali mengukurnya, jadi secara persis aku tidak mengetahui saat ini menyentuh angka berapa. Namun, ketika berkumpul dengan beberapa kawanku, aku tahu bahwa tinggi badanku di bawah rata-rata tinggi sewajarnya. Akibat tinggi badanku yang di bawah rata-rata tersebut kadang membuatku merasa minder setiap kali bertemu siapapun yang memiliki tinggi badan terpaut jauh lebih dariku dan sering dianggap sebagai remaja (baca: anak kecil atau bocah). Di samping itu, persyaratan lowongan pekerjaan di Indonesia yang mengharuskan pelamarnya memiliki tinggi minimal 165 cm bagi laki-laki (dan syarat usia maksimal 25 tahun tentunya), membuatku kesal dan mengurungkan niat untuk mencoba mencari pengalaman pekerjaan.


Kognitif

Ketika aku mengikuti kegiatan keorganisasian atau seminar yang diadakan untuk umum, aku selalu terpana terhadap orang yang berbicara dengan baik dan mengutarakan isi pikiran dengan runut. Belakangan aku mengetahui bahwa kecakapan seseorang berbicara cukup dipengaruhi oleh kognitif atau kemampuan seseorang memahami suatu konteks. Itu sangat bertolak belakang denganku yang merasa kesulitan untuk mengutarakan sesuatu karena kemampuanku dalam memahami suatu topik atau bahasan tertentu masih serampangan dan tidak runut. Aku merasa bahwa ada tekanan yang membuatku enggan atau takut mengutarakan isi pikiran, hal tersebut membuatku tidak terbiasa berbicara secara terbuka. Padahal, salah satu keahlian yang harus dimiliki seseorang yang "dewasa" adalah dapat menyampaikan pesan dengan baik.


Emosional

Terdapat anggapan bahwa kecerdasan emosional merupakan kemampuan penting untuk mengatur emosi diri dan membangun interaksi dengan orang lain. Emosi sendiri, menurut tinjauan Daniel Goleman yakni pakar psikologi yang mendalami ilmu kecerdasan emosional, diidentifikasikan sebagai berikut:

1. Rasa marah (kebencian, tersinggung, permusuhan, dan tindakan kekerasan)


2. Rasa sedih (kesepian, depresi, putus asa)


3. Rasa takut (kecemasan, kekhawatiran, dan gugup)

4. Rasa nikmat (kesenangan, kepuasan, dan perasaan bahagia)

5. Rasa cinta (kebaikan hati, kasih sayang, kepercayaan, dan kasmaran)

6. Rasa terkejut (ketakjuban dan rasa terpesona)

7. Rasa jengkel (rasa muak, tidak suka, dan kehinaan)

8. Rasa malu (perasaan menyesal dan bersalah)

Untuk mengidentifikasi emosi-emosi beserta karakteristik kematangan emosi seseorang tersebut, Daniel Goleman juga mengemukaan parameter yang dapat digunakan melalui beberapa komponen seperti:

1. Kesadaran diri: kemampuan mengidentifikasi dan memahami suasana hati dan motivasi diri.
Sebagai seseorang yang telah banyak mengalami suasana hati, tidak membuatku sepenuhnya mengetahui emosi apa yang terjadi dalam diri. Ini kadang membuatku salah dalam melakukan penanganan terhadap emosi atau suasana hati.

2. Pengendalian diri: kemampuan seseorang untuk dapat bereaksi terhadap sesuatu secara terkendali atau tidak gegabah.
Pada satu sisi aku merasa bahwa aku adalah seseorang yang perpeksionis, yakni seseorang yang mendambakan semuanya berjalan sempurna sesuai rencana, tetapi di sisi yang lain aku adalah seorang impulsif akut, mengambil keputusan secara tidak terkontrol dan tidak melihat akibatnya di masa yang akan datang.

3. Motivasi diri: kemampuan seseorang yang berhubungan dengan peningkatan diri secara terus menerus.
Gairah akan meningkatkan kemampuan diri pada waktu tertentu selalu menggebu-gebu. Namun, ketika melakukan kegiatan tersebut (meningkatkan kemampuan diri), rasa malas seakan-akan menyelimuti diri. Aku teringat ketika hendak mengembangkan kemampuanku di bidang tertentu harus terhenti begitu saja hanya karena dorongan atau motivasiku yang sangat rendah.

4. Empati: kemampuan memahami reaksi emosional orang lain.
Kemampuan ini dapat meningkatkan hubungan antar manusia. Melalui kemampuan ini juga dapat menghindarkan kesalahpahaman terhadap perilaku seseorang. Aku merasa di segi ini cukup berani mengatakan bahwa diriku dapat memahami reaksi emosional orang lain. Hanya saja, dengan tingkat kecuekan atau ketidakpedulianku terhadap sesuatu di luar diriku (atau yang berhubungan dengan diriku), menjadikanku seseorang yang apatis.

5. Keterampilan sosial: kemampuan mengenali kebutuhan sosial dan memenuhi kebutuhan tersebut.
Sebagai makhluk sosial, tentunya aku juga memiliki kebutuhan akan bersosialisasi. Maka dari itu aku pun berusaha untuk bersosialisasi dengan mengikuti kegiatan sosial baik yang tersistem seperti organisasi maupun kegiatan sosial non formal. Kemampuan ini berhubungan dengan kedewasaan dalam aspek:

Sosial
Dikatakan bahwa seseorang yang sudah dewasa secara sosial berarti dapat melakukan hubungan yang baik dengan orang lain. Sebagai seorang--yang mendiagnosis diri sebagai--introver, aku lebih menyenangi kegiatan yang tidak melibatkan interaksi dengan orang lain karena menganggap bahwa melakukan interaksi dengan orang lain akan banyak menimbulkan masalah. Tentu saja anggapan tersebut merupakan sebuah kekeliruan dan kekanak-kanakkan mengingat bahwa sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa melakukan kegiatan pemenuhan kebutuhan sendirian.


Berusia 26 tahun memang sudah sepantasnya dikatakan dewasa. Hanya saja, banyak sekali faktor yang dapat menghambat proses pendewasaan seseorang seperti faktor genetik, faktor lingkungan, hingga faktor psikologis seperti yang sudah sedikit kusinggung di atas. Melalui kesadaran akan hal-hal tersebut, membuatku merasa sedikit percaya diri dengan usiaku saat ini meski pada kenyataannya telah banyak tertinggal oleh orang-orang yang seusia denganku.

Aku menulis tulisan ini tidak bertujuan untuk dirayakan, melainkan untuk mengenali diri sendiri sekaligus sebuah usaha menjadi dewasa. Entah bagaimana selanjutnya, akan kujalani sebagaimana mestinya, tetap terencana, tetapi tetap merasa tidak apa-apa apabila tidak terlaksana.

Terima kasih sudah mau membaca dan mengenali diri ini, semoga kamu mengenal diri kamu juga.

Salam, kawanmu.


Comments

Popular Posts