(Bukan) Review Film: Tuhan, Izinkan Aku Berdosa
"Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur" merupakan salah satu judul buku Muhidin M. Dahlan yang sudah lama masuk dalam daftar bacaanku. Hanya saja, karena satu dan lain hal (atau alasan yang kubuat sendiri) sampai saat ini belum juga tercapai.
Aku mengenal judul buku tersebut dari salah satu media sosial toko buku ternama Yogyakarta yang kulupa namanya. Buku tersebut menceritakan tentang seorang muslimah yang dikecewakan oleh kenyataan bahwa organisasi yang dianggap dapat membawanya ke gerbang keberislaman yang kaffah, malah melahirkan jawaban-jawaban yang tidak memuaskan atas setiap pertanyaan-pertanyaan kritisnya.
Alasanku ingin membaca buku tersebut selain karena isu yang diangkat di dalamnya, juga karena rasa penasaran terhadap perubahan drastis karakter dari seorang hamba Tuhan yang begitu taat, menjadi seorang yang begitu dekat dengan maksiat.
Karena tidak bisa membaca buku tersebut dalam waktu dekat ini, film “Tuhan, Izinkan Aku Berdosa” yang merupakan alihwahana dari buku tersebut kujadikan sebagai pilihan.
(Dokumentasi: mvppictures_id)
Film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo tersebut rilis tayang pada 22 Mei 2024 lalu dan tayang perdana pada enam bulan sebelumnya yakni tepatnya pada 1 Desember 2023.
Diawali dengan bait-bait doa(?) yang menghunjam, membawa suasana yang intim antara seorang hamba dengan Tuhannya. Ini mengingatkanku pada bait-bait sufistik Rabiah Al Adawiyah, yang mana bait-bait miliknya sangatlah berani memosisikan diri sebagai seorang yang siap dan rela atas apa pun keputusan Tuhan karena semuanya adalah wujud cinta Tuhan terhadap hamba-Nya.
Berjalannya alur yang maju-mundur, menjadikan film ini tersaji dengan membawa kesan yang tidak membosankan, dan tentu saja sinematografi film ini sangat terasa pas dan memuaskan. Transisi antara masa lalu dan kini dapat kau ketahui dari perbedaan karakteristik tokoh utama di film ini, Kiran. Perubahan demi perubahan yang dialami Kiran akibat kekecewaan dari orang-orang yang dikenalnya, akan membuatmu turut ikut terbawa perasaan hampa sekaligus kesesakan yang dialaminya.
Terdapat pertanyaan-pertanyaan yang menjadi kunci dari film ini, salah satunya yakni mengenai “keterkabulan”. Pertanyaan akan keterkabulan doa yang disenandungkan menjadi pemantik seseorang untuk memilih sikap apa yang nantinya akan diambil, entah kesabaran atau pembangkangan. Dan, pertanyaan-pertanyaan lainnya akan kau dapatkan jawabannya dari menonton film tersebut.
Selamat menonton.


Comments
Post a Comment