Kesan Pertama Mendaki Gunung (Gunung Salak, Jawa Barat)

Beberapa waktu lalu saya sempat berkeinginan untuk mendaki gunung, dan gunung yang harus saya daki pertama kali adalah gunung Salak, dengan alasan gunung tersebut paling dekat dari kota tempat saya tinggal. Gayung bersambut, Silaru Adventure–yakni salah satu toko online yang menyediakan alat-alat outdoor dan keperluan lainnya–yang kebetulan pemiliknya merupakan kawan saya (senior lebih tepatnya), Kak Ican–mengadakan open trip ke puncak Manik Gunung Halimun Salak pada 30 November sampai 1 Desember 2019, kebetulan sekali pikir saya, saya pun antusias untuk ikut–walaupun awalnya ragu karena satu dan lain hal, namun karena merasa akan sangat disayangkan sekali melewatkan kesempatan tersebut,  saya pun mantap untuk ikut dan langsung membayar biaya pendaftaran tiga hari sebelum hari pemberangkatan.

Karena tidak mempunyai peralatan penunjang pendakian, saya pun meminjam (sebelumnya berniat menyewa) peralatan yang akan diperlukan selama pendakian pada Kak Ican, ia dengan senang hati meminjamkan, mungkin karena ini akan menjadi pendakian saya yang pertama, ia seperti membiarkan saya terkena virus mendaki gunung.

Hari pemberangkatan tiba. Sabtu pukul setengah satu siang saya sampai di tempat yang akan jadi titik kumpul, yakni sekitar Masjid Amaliah Ciawi, Bogor. Sembari menunggu, terlebih dahulu saya mengisi perut di sekitar area tersebut. Seberes perut terisi, saya pun mencari peserta lain di area parkir masjid dan bertemu dengan empat orang peserta, diantaranya Teh Atin, Teh Riska,  Kang Budi dan satu laki-laki yang tidak saya ingat namanya (karena tidak ikut mendaki). Mereka mengaku bahwa ini kali pertama mengikuti trip yang diadakan Silaru Adventure,  karena memang ini pun kali pertama Silaru Adventure mengadakan trip.

Kami pun langsung berkumpul di halaman belakang Masjid Amaliah yang kemudian bergabung dengan peserta lainnya yakni Kang Yunus, Hilman, Viscal dan tim dari Silaru Adventure sendiri yakni Kak Ican, Kak Shinta, Dimas dan Ramdaniansyah.

Karena dirasa peserta sudah lengkap, kami langsung bersiap untuk berangkat yang sebelumnya dilakukan pengarahan oleh Dimas dan berdoa untuk keselamatan selama perjalanan. Pukul 13.50, kami pun bertolak menggunakan sepeda motor menuju Cidahu, Sukabumi.

Pukul 15.30 kami sampai di pos registrasi. Kami pun melaksanakan salat Asar di musala dekat pos registrasi, sementara Kak Ican dan Dimas langsung mengurus registrasi  atau simaksi pendakian. Seberes registrasi, kami langsung menuju titik awal pendakian. Sebelum berangkat, seperti biasa, kami berdoa terlebih dahulu dan sedikit mengabadikan momen.

Sesuai jadwal yang ditetapkan,  pertama-tama tempat yang akan kami tuju adalah kamp Bajuri, karena kami akan mendirikan tenda di sana. Dari titip awal menuju kamp Bajuri kira-kira hanya memakan waktu dua jam lebih. Kami mulai pukul empat dan tiba pukul setengah tujuh petang.

Seberes mendirikan tenda, kami pun memasak dan makan bersama. Sekitar pukul sepuluh setelah asyik berbincang santai,  kami harus beristirahat karena pukul dua pagi harus bangun untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Tepat pukul dua,  kami bangun dan bersiap diri untuk berangkat menuju puncak.  Kami mulai berjalan pukul setengah tiga.

Karena keadaan masih gelap, di perjalanan penglihatan kami hanya sebatas jalan yang disinari senter yang kami bawa. Agar tidak terlalu lelah karena melihat jalur yang melemahkan mental, kata kebanyakan orang mengenai perjalan malam. Ya, mungkin hal tersebut efektif bagi sebagian orang,  sebagian lagi menganggap bahwa lelah tidaknya kita karena jalur berasal dari sugesti kita masing-masing dan melakukan perjalanan malam akan menyulitkan navigasi.

Berbeda dari perjalanan sebelumnya,  yakni dari titik awal menuju kamp Bajuri yang rintangannya masih santai. Perjalanan menuju puncak lumayan menyiksa dan banyak menguras tenaga. Ada satu orang yang cukup dibuat tersiksa oleh jalur menuju puncak tersebut,  ialah Ramdaniansyah.  Sebelumnya ia juga sempat jatuh saat menyeberangi batang pohon,  sampai-sampai trekking fole yang ia gunakan rusak, mungkin hal itu  lah yang menyebabkan ia cukup tersiksa melewati jalur menuju puncak yang rintangannya tidak santai.

(dokumentasi Silaru Adventure)


Karena kami melakukan perjalanan yang cukup santai,  tidak diburu-buru untuk sampai menuju puncak. Kami yang memulai perjalanan dari pukul setengah tiga pagi,  baru mencapai puncak pukul sepuluh pagi dan langsung disambut hujan selang beberapa menit yang mengharuskan kami berteduh di sebuah gubuk di sana.

(dokumentasi pribadi)

Walau hujan sudah reda, di atas puncak, kabut masih setia mengelilingi sekitaran,  hingga kami tidak mendapat banyak pemandangan secara luas di sana.

(dok. Silaru Adventure: dari kiri atas; Kak Ican, Kang Budi, Dimas, Ramdaniansyah, Kang Yunus. Dari kiri bawah; Hilman, saya, Teh Atin, Teh Riska, Kak Shinta, Viscal)

Pukul duabelas,  kami memutuskan untuk kembali ke kamp Bajuri setelah sebelumnya mengisi perut, berswafoto,  dan yang paling menarik yakni melakukan quiz berhadiah yang diadakan Silaru Adventure.

(dok. Silaru Adventure: Viscal, Hilman, Teh Atin, Teh Riska)

Pukul empat sore kami sampai di kamp Bajuri, beristirahat,  makan dan melakukan keperluan pribadi lainnya. Kemudian berkemas untuk pulang.

Kembali ke titik awal,  kami mengambil jalur  yang berbeda dari saat kami awal berangkat. Di jalur pulang terdapat jalan yang sudah diaspal, jadi cukup membuat kami lebih menghemat energi.

Sesampai di titik awal pendakian,  kami mampir di warung yang sebelumnya kami hampiri sebelum memulai pendakian.  Di sana kami beristiahat melonjorkan kaki dan mengisi perut sekadarnya. Di sela istirahat, beberapa kawan membahas tentang apa yang telah mereka lalui, mulai dari hal yang manis sampai ke hal yang mistis.  Ya, tidak sedikit yang menyebut bahwa di Gunung Salak terdapat banyak hal-hal mistis. Yang saya dengar,  hal-hal mistis yang mereka alami di antaranya yakni ada sosok yang mengintip di tenda kelompok putri, hal ganjil saat memotret, dan beberapa mendengar suara-suara aneh sampai yang tidak masuk akal. Meski begitu, pendakian tersebut cukup menyenangkan dan berkesan bagi saya. Selain mendapat pengalaman dan pelajaran baru, saya juga bisa merasakan bagaimana nikmatnya sebuah pendakian, dan sepertinya hal tersebut membuat saya merasa ketagihan. Benar apa kata kawan saya, bahwa mendaki itu candu. 

Comments

Popular Posts