(Bukan) Review Film: First Love

Kau pasti setuju, bahwa pengalaman yang sangat melekat dalam ingatan kita adalah pengalaman yang dialami pertama kali (kecuali kelahiran kita) seperti pertama kali masuk sekolah, pertama kali bisa bersepeda, dan tentu saja menyukai seseorang untuk pertama-kalinya. 

Jika boleh bercerita tentang menyukai seseorang untuk pertama-kalinya, aku akan membawamu ke kejadian yang menurutku memalukan (sekaligus memilukan) yakni semasa kanak-kanak tepatnya ketika aku sedang diajak kakakku mencari uang jajan tambahan dengan berjualan roti keliling menggunakan ranjang berwana putih berongga yang didudukkan di atas kepala--aku melihat sekumpulan kawan-kawan kampung sebelah tengah bermain bola sepak, dan di antara mereka adalah salah satu teman kelasku sekaligus perempuan yang kusukai saat itu, Alfa aku memanggilnya. Kau bisa membayangkan kejadian yang kualami saat itu dengan mengingat adegan dalam sebuah film ketika tokoh utama begitu terpesona terhadap orang yang disukainya yang dibungkus dengan pengambilan gambar close up ditambah efek visual berupa rona menghangatkan jiwa hingga hal tak terduga berupa tersungkurnya aku akibat menginjak batu sialan yang kujadikan pijakan berjalan menimpaku. Tidak perlu bertanya bagaimana nasib keranjang putih beserta isinya yang kubawa, sumber uang jajan tambahanku itu berserakan di tanah cokelat kering yang disambut dengan gelak tawa oleh mereka yang melihatku yang tengah buru-buru memasukkan kembali roti-roti yang kebanyakan sudah berhias tanah dan pasir di kulitnya. Dari kejauhan kulihat sepasang mata berkilau yang kugemari (seingatku) sama sekali tak memperhatikan, satu sisi aku merasa lega karena kejadian memalukan yang menimpaku itu tak akan diingatnya, tapi di sisi lain aku juga merasa kasihan terhadap diriku sendiri karena mendapat fakta bahwa orang yang kusuka saat itu sama sekali tidak menaruh perhatian terhadapku. Pada saat itu (dengan kesadaranku saat ini), selain tangan kosong, itu adalah kali pertama aku pulang ke rumah dengan hati kosong.

Aku (setidaknya untuk saat ini) tidak akan membicarakan lebih jauh perihal di atas, berikutnya aku hanya akan membicarakan pengalamanku menonton film atau lebih tepatnya serial Jepang di Netflix berjudul "First Love."

Setelah beberapa minggu lalu menyelesaikan maraton menonton serial drama Korea "Reply 1988" dan "Start Up" yang sempat kutunda beberapa waktu lalu sebelumnya, aku--yang tidak mau rugi karena telah berlangganan Netflix ini--melanjutkan kebiasaan "makan sambil nonton" dengan menonton serial yang direkomendasikan Netflix di beranda aplikasi miliknya, "First Love." 


Dokumentasi Wikipedia

"First Love" merupakan serial Jepang yang dirilis oleh Netflix pada 24 November 2022 dan dibintangi oleh Hikari Mitsushima dan Takeru Satoh. Serial ini terinspirasi dari judul lagu milik Hikaru Utada yakni First Love dan Hatsukoi. Yuri Kanchiku merupakan penulis skenario sekaligus sutradara di belakang serial tersebut. Sesuai judulnya, serial "First Love" menyuguhkan cerita tentang sepasang manusia yang menemukan cinta pertamanya. Lebih spesifik, serial ini menceritakan Aye Noguchi dan Harumichi Namiki yang menjalin hubungan asmara semasa SMA hingga takdir memisahkan mereka. Dengan alurnya yang maju-mundur, membuat kita yang pertama kali menontonnya akan sedikit dipaksa untuk menerka-nerka. Meski demikian, terdapat keterangan waktu tiap perpindahan alurnya (ditambah latar tempat beserta teknologi di dalamnya yang menjadi pembeda masa lalu dan masa sekarang) menjadikan aliran cerita yang terjadi begitu mudah untuk dimengerti. Selayaknya cerita pada umumnya, "takdir" adalah kata kunci utama yang menjadikan serial ini begitu sayang untuk dilewatkan. 

Tadinya aku sempat skeptis akan tontonanku ini yang nantinya tidak bisa menambah kenikmatan tiap suapan makanan yang kumakan. Namun, pembukaan serial yang ternyata lamban (di lain sisi menenangkan), sangat mendukung skeptis-an-ku itu. Aku dipaksa untuk menyisihkan wadah makanan di depanku untuk fokus akan tiap adegannya karena pengambilan gambar dan perbincangan di serial tersebut sangat sayang untuk dilewatkan (bahkan menjadikan makananku dingin dan hambar sampai-sampai tidak nafsu makan karena sedu sedan, sialan!).

Selain pengambilan gambar dan alur cerita yang ciamik, warna biru (baik harfiah maupun istilah) yang dominan membikin tiap adegannya memanjakan mata sekaligus menenangkan dan juga mengingatkanku akan diriku yang dulu begitu menyukai warna tersebut. Menurutku, cerita yang sederhana sekaligus rumit dalam serial "First Love" sangat cocok untuk dijadikan salah satu serial yang harus ditonton setidaknya sekali seumur hidup. 

Dariku sekian, agar harimu tidak biru, pesanku: jangan makan Napolitan!



Comments

Popular Posts