Pusing Gara-gara "Surat Sialan"

Cukup banyak kawan saya yang sukses dibuat pusing oleh cerita yang saya tulis di blog Kita Berkisah dengan judul "Surat Sialan" beberapa waktu lalu. Mereka mengeluhkan kerumitan alur cerita yang entah maju atau mundur; pergantian tokoh juga latar yang tiba-tiba; dan akhir cerita yang cukup memusingkan hingga belum bisa dimengerti dengan sekali baca. 

Awalnya saya hanya iseng membuat kata-kata pada malam yang cukup terang oleh bulan, saya simpan,  paginya saya lanjutkan. Entah kenapa,  dari tulisan yang tadinya puitis malah jadi cerita yang membuat saya bingung. Karena kebingungan tersebutlah muncul ide gila untuk membuat cerita yang memang cukup gila. 

Diceritakan dengan sudut pandang pertama, "Surat Sialan" menceritakan tokoh Aku yang tiba-tiba berada di tempat juga waktu yang berbeda saat membaca surat yang ditemukannya di dalam tas pada suatu senja. 

Dalam tempat dan waktu tersebut,  tokoh Aku bertemu dengan seorang wanita bernama Laras yang kemudian diketahui sebagai asisten salah satu dosen di kampus bernama Pak Kusnadi di saat si tokoh Aku sudah berada di dalam kelas. 

Seberes kelas,  tokoh Aku membantu Laras membawakan setengah buku-buku yang Laras bawa menuju perpustakaan. Anehnya, saat Laras memasuki perpustakaan,  tiba-tiba Laras menghilang dan perpustakaan berubah menjadi sebuah toko buku yang katanya merupakan langganan si tokoh Aku. Di toko itu pun ia bertemu dengan Laras ketika sedang mencari sebuah buku lanjutan yang si tokoh Aku baca sebelumnya. 

Mereka pun berbincang di coffee shop seberang toko buku. Di situ baru diketahui bahwa tokoh Aku bernama Lazuardi. 

Lazuardi merasa bingung sudah berada di dalam kamar setelah Laras pamit dari coffee shop. Ditemukan sebuah catatan di kamar Lazuardi yang ketika dibaca akan sangat aneh sekali,  di mana pada surat tersebut menceritakan Lazuardi berubah posisi dengan Larasyang mana seharusnya Lazuardi sebagai siswa dan Laras sebagai asisten dosen.  Di sinilah cerita makin membingungkan, setelah diketahui bahwa Laras itu orang yang tidak pernah ada. Lazuardi kemudian pergi ke sebuah taman,  lalu menemukan sebuah surat dalam tasnya yang membuatnya berada di kampus dan waktu yang berbeda. Di kampus itu,  tiba-tiba buku yang ia bawa terjatuh akibat tak sengaja menabrak seseorang. 

Cerita pun kembali lagi kepada tokoh Aku yang sudah menemukan nama dalam surat yang ia baca. Hal yang tak terduga terjadi di akhir cerita ini,  ternyata tokoh Aku di awal itu merupakan Kusnadi yang membaca surat dari Laras kepada Lazuardi. Cerita makin membingungkan hingga akan membuat kita bertanya:

Jika surat tersebut ditulis Laras,  kenapa menceritakan sudut pandang Lazuardi? 

Bukankah dalam cerita Lazuardi,  Laras itu orang yang tak pernah ada? 

Kenapa di akhir cerita,  tokoh Aku yakni Kusnadi menyatakan bahwa Laras dan Lazuardi tidak ada hubungan dengannya? 

Jadi, apakah Lazuardi dan Laras adalah dua orang yang memang tak pernah ada? 

Kalau memang tak pernah ada,  kenapa ada surat dan cerita tentang mereka?

Sebenarnya, cerita tersebut bisa ditafsirkan atau bahkan dikembangkan sesuai imajinasi pembaca-hingga sampai mendapat kesimpulannya. 

Hanya saja, ada bocoran yang akan memudahkan kita untuk memahami cerita tersebut, yakni: anggaplah tokoh Kusnadi ini merupakan seseorang yang memiliki kepribadian ganda atau bahkan orang tidak waras yang berkeliaran di kampus. 

Namun,  masih ada satu hal yang masih mengganjal, yakni: kenapa tiba-tiba ada surat di dalam tas Kusnadi? 

Comments

Post a Comment

Popular Posts