Jatuh Cinta Pada P(em)andangan Pertama #1
(Bagian Satu)
Hari pertama, 19 Juni 2018
Siang itu, aku sedang tidak ada jadwal kegiatan keluar rumah seperti
biasanya, jadi aku hanya menghabiskan waktu di kamar bersama ponselku yang diberikan oleh kakakku bulan oktober tahun lalu. Tiba-tiba
kakakku: Buluk,
masuk ke kamarku dan mengajak untuk ikut pergi bersamanya. Aku pun bertanya
akan ke mana aku diajaknya. "Ciletuh" jawabnya singkat. Wah, mendadak sekali
pikirku, dia pun memintaku untuk segera bersiap diri dengan keperluanku jika benar
ingin ikut. Aku belum memberikan
jawaban ikut atau tidaknya karena masih menimbang-nimbang untuk menerima
ajakannya. Lantas, ia mengulang pertanyaan pertamanya. Aku
tidak langsung menjawab, bahkan keluar
rumah karena
teringat satu urusan yang harus segera dituntaskan.
Setuntas urusanku tadi,
aku pikir kakakku akan menungguku, ternyata dia sudah berangkat dengan membawa motor miliknya.
Sebenarnya aku ingin sekali ikut, jika saja diberi waktu untuk aku bereskan urusanku dan sekadar
packing. Jadi, aku kembali berdiam diri di rumah, tak ada yang
dikerjakan, hanya berkutat dengan ponselku lagi.
Selang beberapa menit, kakakku yang lain (aku memanggilnya Aa1 Dedeng) masuk ke kamarku, lalu menyodorkan ponsel yang tengah ada panggilan. Ternyata itu panggilan dari kakakku: Buluk. Ia bertanya kembali untuk memastikan aku mau ikut atau tidak, dengan sigap aku jawab "ikut!" dilanjut menyiapkan segala keperluan yang mungkin terpakai nanti. Aku pun diantar oleh A Dedeng ke depan gerbang SDN Malabar, karena di sana dijadikan titik kumpul pemberangkatannya.
Sesampai di depan SDN Malabar, terlihat yang berkumpul di sana
mengenakan jaket ataupun atribut ojek online. Sepertinya, ini acara yang memang
diadakan oleh mereka. Tanpa berbasa-basi, aku salami mereka yang tengah berkumpul dan aku melihat Buluk ada di tengah-tengah mereka (saat itu aku baru ingat kalau kakakku seorang
driver ojek online). Selepas bersalaman, aku hanya diam di atas motor Buluk sambil memperhatikan
kawan-kawannya dan yang aku kenal dari mereka yakni hanya: Keket, kawan Buluk yang
masih satu kampung dengan kami, dan satu lagi adalah Jek.
Selepas dirasa semua telah berkumpul, kami awali berdoa terlebih
dahulu dengan harapan selamat di perjalanan juga tak lupa kami abadikan momen
dengan berfoto bersama.
(Buluk; pojok kanan foto, Aku; kedua dari kanan, Jek; Ketiga dari kanan, Keket; yang mengacungkan jempol)
Selepas berfoto, tepat pukul lima sore––kami bersiap-siap untuk
memulai perjalanan melalui jalan pajajaran menuju Ciawi dan mengambil jalan
yang mengarah Sukabumi.
Ketika waktu isya tiba, kami berhenti di sebuah masjid terlebih
dahulu untuk melaksanakan shalat. Kemudian,
perjalanan kembali dilanjut.
Sesampainya di Sukabumi, kami mampir ke sebuah rumah makan ayam
penyet dekat Pelabuhan Ratu sebelum mengakhiri
perjalanan ke pantai Ciletuh. Di rumah makan tersebut, Buluk dan kawan-kawannya
berbincang mengenai pantai Ciletuh. Ternyata kami datang di waktu yang kurang
tepat. Salah seorang dari kami mengatakan bahwa saat ini, tempat tersebut
sedang tidak cocok untuk dijadikan tujuan destinasi. Hingga yang lain pun mengusulkan untuk mengubah
rencana dan tujuan destinasi, dan alternatif yang diambil ialah Ujung Genteng––karena
kebetulan ada salah satu kerabat Keket yang ternyata tengah berlibur di sana.
Selepas makan dan menentukan destinasi cadangan, kami pun
melanjutkan perjalanan.
Dari Pelabuhan Ratu, kami susuri jalan, saat setelah melewati daerah
Jampang Surade. Kami putuskan untuk beristirahat merebahkan kaki yang pegal di
depan sebuah mini market yang masih tutup seraya melawan kantuk dengan
menyeruput kopi. Setelah dirasa hilang rasa pegal dan stamina terkumpul
kembali, kami pun melanjutkan perjalanan yang katanya tinggal beberapa puluh
menit lagi.
Hingga tibalah kami di Ujung Genteng.
Buluk mengatakan bahwa pertama-tama kami akan menuju pantai Cibuaya,
karena kerabat dari Keket yakni bernama Ical––sudah menyewa sebuah
rumah di sana sedari kemarin untuk keluarganya dan merpersilakan kami jika
ingin menginap mau pun sekadar menaruh barang bawaan.
Namun, saat kami sudah sampai di pantai Cibuaya, Ical sulit
dihubungi. Mungkin sudah terlebih dahulu
tidur karena belum mengetahui kejelasan waktu kedatangan kami di sana. Saat itu
waktu menunjukkan
pukul sepuluh malam, dan kami terdampar
dengan keadaan lelah dan kantuk di dekat sebuah benda tinggi mirip tower
bersama calo yang sedari tadi membuntuti kami untuk menawarkan penginapan. Kami
tidak menerima tawarannya dan memutuskan untuk istirahat di pantai Cibuaya tersebut.
Aku memilih untuk tidur di bawah benda tinggi mirip tower itu, sedang yang lain
ada yang merebahkan badannya di pasir,
atau memutuskan untuk tetap
terjaga.
1Aa: panggilan kakak dalam bahasa
sunda.



Comments
Post a Comment