Jatuh Cinta Pada P(em)andangan Pertama #2


(Bagian Dua)

Hari kedua, 20 Juni 2018
Pagi mulai menghampiri, aku dibuat menggigil oleh angin yang berembus dan menyelinap ke lubang-lubang yang ada di baju dan celanaku. Ketika pagi mulai beranjak menjadi siang, akhirnya Ical datang menjemput kami di tempat yang dijanjikan setelah ia mengetahui kabar keberadaan kami di sini. Kami pun bergegas membawa barang bawaan kami ke rumah sewaannya dan beristirahat bagi mereka (termasuk Buluk) yang rela tidak tidur pada malamnya demi menjaga kendaraan dan barang bawaan untuk meminimalisir dari kemungkinan pencurian.

Kemudian ada usul dari kawan kakakku untuk berenang di pantai dan aku pun diajak. Hampir semua ikut, hanya Buluk dan Keket yang memilih beristirahat. Tanpa menghiraukan mereka, kami yang sudah tak sabar bersentuhan dengan air laut yang katanya terasa asinlangsung memacu motor dengan kencangnya menuju pantai.

Pantai yang kami tuju ternyata bukan tempat kami bermalam tadi, kami susuri jalan mengikuti arahan dari kawan kami yang sudah mendahului kami yakni Adut dan Aziz. Saat itu aku dibonceng oleh Jek, di tengah jalan kami kebingungan. Kami kehilangan jejak Adut dan Aziz, hingga kami pun hanya mengikuti jalan, melewati tempat penangkaran penyu. Dan akhirnya kami menemukan sebuah tempat parkir dan ternyata terdapat motor Adut yang terparkir di sana. Kami turut menitipkan motor di tempat dekat motor Adut diparkirkan. Kemudian menyusuri beberapa menit rawa-rawa hingga tiba di pantai di mana pasir di sana sesuai dengan namanya: Pasir Putih.

Di pantai Pasir Putih itu, kami disuguhi pemandangan yang menenangkan sekaligus mendebarkan. Menenangkan karena embusan angin laut yang membelai wajah dengan lembutnya, mendebarkan karena ombak yang tengah berkejar-kejaran untuk sampai ke bibir pantai dan melibas siapa pun yang mengadangnya.

Entah kenapa, seperti ada desiran yang membuai telingaku dan terdengar degup dadaku ketika mencumbui bibir pantai serta lekat-lekat memandangi keindahan tak berujung yang Sang Pencipta suguhkan. Walaupun sebenarnya ini bukan kali pertama aku menginjakkan kaki di atas pasir pantaisetelah beberapa bulan lalu aku bersama rombongan wisata edukasi sekolah ke sebuah pantai di Jogjakarta (bedanya, di sana aku tidak berenang). TapiApakah ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama?  Ah tidak, ini tepatnya "jatuh cinta pada pemandangan pertama" (sayangnya,  aku tidak membawa ponsel untuk mengabadikan pemandangan di sanakarena semalam daya ponselku sangat lemah dan aku hanya bisa isi ulang daya ponselku ketika tiba di rumah yang disewa Ical).

Setelah puas bermain di bibir pantai dan berenang di air payau, kami putuskan untuk kembali ke rumah sewaan Icalkarena memang waktu pun sudah menunjukkan pukul setengah duabelas siang.
Sekembalinya kami dari pantai, kami pun bergiliran mandi di rumah yang disewa Ical. Kemudian memasak nasi liwet untuk memenuhi permintaan perut kami yang berbunyi sedari tadi.

Nasi liwet matang yang diwadahi kertas nasi,  segera kami hampiri yang setelah beberapa menit hanya meninggalkan beberapa butir nasi.

Waktu telah menunjukkan pukul satu siang, yang artinya waktu untuk kami (termasuk keluarga Ical) harus bergegas meninggalkan rumah sewa tersebutkarena memang sudah melampaui batas waktu sewa. Kami pun bersiap-siap untuk melakukan perjalanan pulang. Seperti biasa, sebelum memulai perjalanan,  kami berdoa terlebih dahulu agar diberi keselamatan dan kelancaran selama di perjalanan.

Sebuah pengalaman yang berharga, selain itu kali pertamaku berenang di pantai dan di air payau. Aku jadi sadar, bahwa persahabatan; wawasan di lapangan; dan kebahagiaan atas kebersamaan tidak akan kita dapatkan jika hanya berdiam diri di rumah saja (apalagi hanya berkutat dengan ponsel tanpa ada niat menambah wawasan dan koneksi pertemanan). Hingga saat itu, aku ingin segera pulang, merangkul kawan-kawanku yang sudah lama aku tak jumpai.

Terima kasih Buluk, dkk. sudah membawa jiwa dan ragaku ke tempat luar biasa hingga memberi catatan dalam ingatan yang nanti akan jadi sebuah kenangan. Terima kasih cinta pada pemandangan pertamaku: Pantai Pasir Putih. Semoga,  kita dapat dipertemukan kembali di suatu hari nanti.
(Perjalanan pulang)

Comments

Post a Comment

Popular Posts